Jam 7 pagi, kami sudah jalan ke Taman Krida Budaya untuk sarapan. Saya menyantap semangkuk bubur ayam sedangkan suami menjadikan soto madura sebagai menu sarapannya.
Jam 11 siang, kami memutuskan untuk jalan-jalan di Mall. Yang menjadi tujuan adalah Mall Olympic Garden di jalan Kawi. Walaupun akhir bulan, tapi Mall tetap ramai. Kami ‘belanja-belanji’ dan yang tidak ketinggalan adalah makan.
Baru delapan tahun lalu saya meninggalkan kota Malang , tapi perubahannya sempat membuat saya takjub. Dua Mall baru dalam kurun waktu itu sudah dibuka. Puluhan ruko, tempat makan bahkan perumahan dibangun juga. Saya geleng-geleng kepala. Malang sudah bukan kota ‘kecil’ lagi. Mall yang saya datangi ternyata besar juga. Bolehlah dibilang lengkap. Tapi untung saja, waktu saya kuliah dulu belum ada Mall seperti itu. Kalau ada, pasti kantong saya hancur lebur sebelum tanggal 30. Sebelum pulang, tidak lupa kami membeli roti. Sejatinya, suami paling suka merek roti yang diwaralaba oleh seorang penata rambut terkenal. Tapi berhubung tidak ada, terpaksa kami membeli roti dengan merek yang mirip-mirip sedikit. Walaupun harganya sama, tetapi rasanya jauh berbeda (ini kata suami saya lho). Masih paling enak merek roti kesukaannya. Pertama saya pikir itu hanya psikologis suami saja, tapi setelah mencoba, saya jadi mengerti bedanya. Suami tidak salah.
Jam 5 sore, kami harus berpisah sementara karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Surabaya , sedangkan suami masih ada beberapa urusan di Malang dan Blitar.
Jam 7 malam, travel yang membawa saya dari Malang sudah tiba di bandara Juanda Surabaya. Masih terlalu dini sebenarnya. Tapi saya mengantisipasi kemacetan yang sering terjadi di jalur Malang-Surabaya. Tepatnya di Porong. Sejak ada kasus Lumpur Lapindo, ruas jalan ini sering menjadi langganan macet. Tetapi antisipasi saya kelihatannya sedikit berlebihan. Biasalah….orang Indonesia sering begitu, termasuk saya. Alhasil, saya harus menunggu tiga jam di bandara karena pesawat yang akan membawa saya ke Pulau Bali baru akan take off jam 09.55 malam. Tapi waktu tiga jam itu ternyata cepat sekali.
Walau sudah kali keempat saya ‘mampir’ di bandara yang baru disulap menjadi megah ini, tetapi tetap saja saya merasa asing. Sambil menikmati suasana bandara, saya jalan mondar-mandir. Lalu berhenti di sebuah restoran yang menyajikan dim sum kesukaan saya. Yummy….itulah yang menjadi menu makan malam saya.
Jam 09.55 malam, pesawat Airbus 320 milik maskapai Mandala Airlines dengan nomor penerbangan RI562 membawa saya menuju Bali . Dengan menahan kantuk, saya berusaha tetap terjaga karena hanya tiga puluh lima menit pesawat ini mengangkasa.
Menjelang tengah malam waktu setempat, saya sampai di bandara Ngurah Rai Bali. Untuk keesokkan harinya kembali bekerja lagi, menjadi kuli duit di Denpasar.
Benar-benar hari yang melelahkan. Tapi saya menikmatinya. Kadang saya juga bingung, untuk apa semua ini saya lakukan? Apa semata karena tuntutan pekerjaan atau karena Rupiah? Entahlah… Tapi satu hari tiga kota telah membuat saya lebih bersyukur kepada Sang Pemilik Hidup. Bahwa sampai saat ini saya masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menikmati hidup. Bahwa saya masih diberi waktu untuk bertemu suami tercinta. Dan masih diberi kesempatan untuk dapat menikmati jalan-jalan gratis…(ya iyalah, kan dibayarin kantor).
So guys…..jangan iri ya….
Denpasar, 30 Juli 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar