Pernah dengar istilah Balidogs?
Bukan, bukan sejenis hotdog. Kalau hotdog adalah jenis makanan berupa roti berisi sosis ditambah mayones dan saus. Tapi kalau balidog bukan dari jenis makanan. Coba lihat dari artinya. Benar, balidog adalah anjing bali.
Ada apa dengan anjing bali atau balidogs?
Dulu2 saat saya berlibur ke Bali, tidak pernah perhatian dengan keberadaan balidogs ini. Karena saat itu saya hanya mengunjungi tempat2 wisata yang sepi balidogs.Tetapi sejak saya menetap di Bali, saya mulai melihat sekeliling, termasuk keberadaan balidogs ini. Terutama di sekitar tempat saya beraktifitas.
Di sekitar kantor saya banyak sekali balidogs berseliweran. Paling tidak lima menit sekali pasti saya melihat satu balidog lewat depat kantor. Belum lagi yang lewat bersama teman-temannya. Saya cuma bisa geleng2 saja. Ada yang hitam, putih, hitam-putih, coklat, belang-belang, bahkan yang warnanya sudah pudar pun masih nekat jalan-jalan.
Kali pertama saya kaget juga. Karena kebiasaan di Jawa yang berseliweran adalah kucing, ketika pindah ke Bali, saya selalu berpapasan dengan anjing. Sebagai seorang muslim, saya takut dijilat. Karena harus ekstra dalam membersihkannya. Digigit apalagi, bisa resiko rabies. Kalau cuma digonggong saja sih sudah biasa, di Jawa juga pernah.
Tapi balidogs ini agak lain dengan anjing2 di Jawa. Minimal menurut perasaan saya. Kalau di Jawa, rasanya anjing2 itu cenderung galak walaupun kita tidak berbuat apa-apa. Tapi kalau balidogs tidak begitu. Malah cenderung cuek. Pertama kali saya berpapasan dengan balidog, waduh…jantung rasanya mau copot. Takut dijilat, digonggong atau bahkan digigit. Tangan saya sudah siap mengepal, kaki siap untuk menendang. Tapi ketika berpapasan, eh…dengan santainya si balidog lewat begitu saja sambil melengos pula. Yang sudah-sudah saya malah bingung. Pikir saya saat itu, “Ini anjing kok cuek banget, padahal gue udah siap tempur begini.”
Setiap hari saya memang selalu berjalan kaki menuju kantor. Cuma sepuluh menit. Jalan menuju tempat tinggal saya kebetulan jalan buntu. Panjangnya hanya sekitar 100 meter. Dan setiap kali saya berangkat, minimal 5 kali papasan dengan balidogs. Belum lagi ketika di jalan raya.
Tetapi tetap saja naluri anjing selalu bekerja. Setiap melihat seseorang yang mencurigakan, dia tetap saja menggonggong terus sampai orang itu pergi. Balidogs juga begitu. Mereka juga ada yang dipelihara manusia untuk menjaga rumah beserta harta benda. Beda dengan di Jawa, Balidogs ini kebanyakan memang dibiarkan berkeliaran sendiri. Menjelang malam baru mereka kembali ke rumah tuannya masing-masing, atau ke tempat mereka biasa mangkal (walaupun bukan preman) kalau tidak punya tuan.
Dari segi biaya perawatan, pastinya lebih murah memelihara balidogs daripada anjing di Jawa. Karena siapa yang menjadi tuannya hanya ‘diwajibkan’ menyediakan sarapan saja, sedangkan untuk makan siang dan makan malam, balidogs bisa cari sendiri. Lumayan irit kan?!
Siapa berminat mengadopsi balidogs?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar